Selasa, 16 Juni 2009

Brooklyn Bridge

Pada tahun 1855, seorang insinyur kreatif bernama John Roebling terinspirasi dengan sebuah ide untuk membangun sebuah jembatan spektakuler yang menghubungkan Manhattan (New York) dan Brooklyn (Long Island). Para ahli jembatan di seluruh dunia berpikir bahwa itu suatu tindakan yang tidak mungkin dan mereka memberitahunya untuk melupakan ide gila tersebut. “Itu tidak mungkin bisa dilakukan dan dipraktekkan. Tidak ada yang melakukan hal seperti itu sebelumnya”
John tidak bisa mengabaikan visi yang ada dalam pikirannya tentang jembatan ini. Dia selalu memikirkannya dan dia tahu dalam hatinya bahwa itu mungkin untuk dikerjakan! Dia perlu untuk berbagi ide itu dengan orang lain. Setelah banyak diskusi dan pendekatan persuasive dia berhasil meyakinkan anaknya Washington, seorang insinyur yang berbakat, bahwa jembatan itu sesungguhnya dapat dibangun. Tidak berhenti di situ, John juga harus bisa meyakinkan pemerintah setempat akan proyeknya. Sesudah melalui berbagai rintangan, menjelang akhir tahun 1869, proyek pembangunan jembatan itu akhirnya disetujui. Dengan penuh antusias John dan anaknya membentuk tim untuk mengerjakan proyek tersebut. Pada Januari 1870, proyek tersebut resmi dimulai. Namun, hanya beberapa bulan setelah proyek itu dimulai, terjadi kecelakaan tragis. Saat mengunjungi lokasi, kaki John terluka dan tidak lama kemudian dia meninggal akibat Tetanus yg ditimbulkan dari luka itu. Sepeninggal ayahnya, Washington langsung mengambil alih tanggung jawab sebagai pemimpin proyek tersebut. Namun hal itu juga tidak berjalan lama, karena akibat suatu penyakit, Washington menjadi lumpuh total. Dia tidak bisa berjalan atau berbicara, bahkan bergerak pun tidak bisa.
“Kami sudah memberitahu mereka.”
“Orang2 sinting dan impian sinting mereka.”
“Mengejar visi yg tidak jelas adalah sebuah kebodohan”
Setiap orang berkomentar negative tentang mereka dan merasa bahwa proyek itu seharusnya dihentikan saja sebab hanya keluarga Roeblings yang tahu bagaimana cara membangun jembatan itu. Tanpa mempedulikan keadaannya, Washington tidak pernah putus asa dan dia masih memiliki hasrat yang membara untuk menyelesaikan jembatan itu dan pikirannya masih setajam dulu.
Dia mencoba untuk menyampaikan antusiasmenya kepada teman2nya, tapi mereka terlalu takut untuk menerima tugas itu. Suatu ketika, saat dia sedang berbaring di ranjang di RS, dengan seberkas sinar matahari yang menerobos masuk melalui jendelanya, angin berhembus dengan lembut menyibak tirai dan dia bisa melihat langit dan puncak2 pohon yg ada di luar. Seperti ada suatu pesan yang ingin mengingatkan dia agar tidak menyerah. Tiba2 sebuah ide muncul di benaknya. Yang dia bisa lakukan sejauh ini hanyalah menggerakkan satu jarinya, dan dia memutuskan untuk menggunakan jari itu sebaik2nya. Dengan menggerakkan jari itu, dia mengembangkan suatu cara berkomunikasi dengan istrinya, Emily. Dengan cara luar biasa, yaitu dengan hanya mengetuk2kan jari tangannya Washington mengajari Emily berbagai macam ilmu untuk membangun jembatan. Dan pesan itulah yang disampaikan kepada tim insinyurnya yang dulu untuk melanjutkan proyek tersebut. Kelihatan bodoh, tapi proyek jembatan berjalan lagi. Selama 11 tahun , dengan setia Emily menemani Washington dan menerjemahkan kode2 ketukan jari di tangannya hingga proyek jembatan sejauh 1825 m itu akhirnya tuntas pada tahun 1883.
Hari ini Jembatan Brooklyn berdiri dengan segala kemegahannya sebagai monumen tanda kemenangan dari semangat yang tidak pernah pudar, kejayaan dari sebuah tekad yang tidak bisa dikalahkan oleh keadaan. Juga sebagai penghormatan bagi para insinyur dan timnya dan kepada keyakinan mereka pada seseorang yang dianggap gila oleh separuh dunia. Yang tidak kalah penting jembatan ini juga menjadi monument cinta dan kesetiaan seorang istri yang dengan sabar menerjemahkan kode2 dan menyampaikan pesan tsb pada para insinyur.
Mungkin ini adalah salah satu kisah terbaik tentang sikap “never-say-die” yang sanggup mengatasi segala kelemahan fisik dan mencapai tujuan yang kelihatannya tidak mungkin. Jembatan Brooklyn telah menunjukkan kepada kita bahwa mimpi yang nampak mustahil, bisa diwujudkan melalui tekad dan keuletan, tidak peduli berapa besar tantangan yang harus dihadapi.-dari berbagai sumber-

Tidak ada komentar: