Senin, 13 September 2010

FAITH

Sangat mudah untuk kita mengatakan beriman jika kita dalam keadaan baik-baik saja, semuanya ok, semuanya tersedia dengan baik, semua serba kecukupan. Bagaimana jika kita dalam keadaan down, putus asa, berkekurangan, dan tidak ada yang sesuai dengan keinginan hati kita?
Ada sebuah kisah inspiratif dari seorang hamba Tuhan pedesaan yang sedang bergumul untuk membangun gerejanya yang kecil di sebuah desa. Dia terus berdoa, berpuasa dan berharap Tuhan akan mencukupi kebutuhannya. Dan selama berbulan-bulan dia terus berdoa dan akhirnya terkumpul Rp 500 ribu, dan jumlah tersebut masih kurang Rp 1,5 juta lagi.
Rupanya Tuhan menjawab doanya, dia diundang untuk berkotbah di sebuah gereja besar di kota besar, siang harinya dia menyiapkan diri untuk berangkat dengan motor bututnya. Sesampainya di gereja yang mengundangnya, dia mulai berkotbah. Selesai berkotbah, dia menerima persembahan kasih senilai Rp 1,5 juta, dan ada seorang jemaat di gereja tersebut yang juga memberikan jaket karena pendeta tersebut mengendarai motor tanpa jaket.
Dengan senangnya dia pulang ke desanya pada malam hari, saking senangnya dia memuji Tuhan karena Tuhan telah memberikan jawaban atas doanya yaitu kebutuhan untuk pembangunan gereja diselesaikan. Namun ditengah perjalanan, dia di
hadang oleh beberapa orang rampok, akhirnya uang Rp 1,5 juta yang dia simpan di jaketnyapun dirampas,
termasuk jaket barunya. Dengan sangat dia memohon kepada rampok tersebut untuk mengembalikan jaket baru yang diberikan oleh jemaat, mendengar permintaannya tersebut, si rampok tidak mau memberikannya. Namun dia
memberikan jaket bututnya yang bau kepada si pendeta desa ini, dan mempersilakan pendeta tersebut untuk pulang.
Pendeta tersebut pulang dengan air mata, baru saja dia menerima berkat namun dalam sekejab hilang. Setibanya di rumah, pedeta tersebut masuk kamar dan menaruh jaket perampok tersebut dilantai. Dia berdoa dan komplain dnegan Tuhan tentang kejadian yang dialaminya, namun seketika dia mendengar Tuhan membisikkan sebuah kata,”buka kantong jaket itu”, karena penasaran, dia membukannya, dan betapa kagetnya, sebab dia menemukan uang Rp 2 juta dari kantong jaket perampok tersebut.
Keesokan harinya dia bersaksi didepan jemaat,”Puji Tuhan, gereja kita dibangun dengan uang rampok”....karena memang uang tersebut ialah uang dari perampok yang menukarkan jaketnya.
Itulah iman! Iman yang tidak bergantung oleh apapun, iman yang selalu berharap Tuhan sanggup! Percayalah apa yang kita alami, pasti Tuhan akan menjadikan baik adanya. Amin (YOUTODAY)

Tidak ada komentar: