Minggu, 13 April 2008

TRANSFORMASI, RIWAYATMU KINI...


Apa yang kita baca saat ini merupakan sebuah kenyataan pahit yang mau tidak mau harus kita telan dan rasakan bersama. Kita masih ingat suatu gerakan doa di seluruh Indonesia bernama NPC National Prayer Conference, banyak gereja dari berbagai denominasi berkumpul dan bersatu di sebuah stadion untuk mempertontonkan peluk2an antar pendeta tanda kesatuan. Bahkan acara yang digagas sejak tahun 2003 tersebut menyedot perhatian seluruh umat Tuhan di Indonesia, bayangkan event yang sama digelar di beberapa kota di Indonesia dan menyedot dana hampir puluhan milyar rupiah, dengan menyewa stadion umum, sewa sound system, dekorasi panggung, dan undangan melalui media cetak atau elektronik, belum lagi akomodasi para hamba Tuhan bule dan pembicara yang diundang, rasanya komplit sudah milyaran uang tersebut menguap begitu saja. Event tersebut tidak salah! Tetapi yang perlu kita ketahui, Transformasi bukan hanya dilakukan dengan acara, event, dan perayaan2 yang menghabiskan dana milyaran rupiah. Pertanyaan sekarang yang muncul ialah, bagaimana setelah event2 tersebut berakhir? Apa hasilnya? Kita mencoba menyelidiki fakta atau kenyataan yang dihasilkan dari event tersebut, beberapa diantaranya ialah setelah event tersebut berakhir 2005 ( yang dikatakan para pendeta sebagai puncak Transformasi ) banyak gereja-gereja besar terjadi perpecahan, situasi semakin tidak karuan malah beberapa kota muncul mega church yang menyedot ribuan jemaat dari ratusan gereja yang ada disekitarnya. Bahkan 3 tahun setelah tahun 2005 tersebut banyak gereja yang ‘blang’ karena tidak ada arahan, rasanya mereka tidak melihat tuntunan Tuhan lagi setelah mega event tersebut sehingga sekarang muncul fenomena aneh dikalangan gereja Tuhan, ketika ada acara2, apalagi yang datang seorang yang disebut nabi, maka mereka tidak segan2 datang untuk berbondong2. Ngeri sekali melihat kenyataan seperti ini. Bahkan sekarang dibeberapa gereja mengalamikekeringan rohani karena tidak tahu harus dibawa kemana.Nah, melihat kenyataan seperti itu mestinya kita prihatin bahkan menangis lebih keras untuk gereja Tuhan, betapa tidak, yang dihakimi untuk pertama kali oleh Tuhan ialah gerejanya ( pembersihan pertama kali dimulai dari gerejaNya ). Sebenarnya kalau kita mau jujur, rusaknya bangsa ini merupakan akibat dari gagalnya gereja Tuhan. Rasanya gereja sekarang kehilangan taring dan kurang tajam dalam bertindak, akibatnya banyak hal buruk terjadi dalam gereja malah dibiarkan, tetapi hal baik malah ditentang habis2an. Coba lihat perumpamaan ini, ikan dapat menjadi awet apabila di beri garam. Jika ikan tersebut busuk, maka siapa yang harus disalahkan? Garamnya bukan?! Sama, kalau situasi negeri ini buruk maka yang disalahkan untuk pertama kalinya bukan pemerintah atau orang yang ada didalamnya tetapi gereja yang harusnya dihakimi untuk pertama kali. Saya masih ingat, era tahun 1993 sampai 1998, banyak gereja Tuhan menyanyikan lagu-lagu tentang Indonesia tetapi setelah itu sampai sekarang tidak ada lagi lagu2 yang menyatakan bahwa kita mengasihi bangsa ini, yang ada hanya lagu yang berbicara tentang kasih Tuhan, berkat Tuhan, perlindungan Tuhan dan semua hal yang berhubungan dengan pribadi kita sendiri. Apakah kita akan tinggal diam begitu saja? Saatnya gereja bangkit kembali, mengumpulkan kekuatan untuk berjalan dalam kehendak Tuhan, lakukan yang benar, jangan hanya mengharapkan sesuatu yang spektakuler tetapi tidak melakukan yang esensi dan penting. Kita harus ambil peran atas bangsa ini sekarang!

Tidak ada komentar: